17/02/18

Manusia dan Impiannya

Cerita ini diawali ketika gue punya niatan untuk pergi ke sebuah toko yang bisa lu bilang salah satu toko terbesar di Indonesia. Di suatu siang hari yang sangat terik, gue minta tolong ke temen gue, sebut saja Ibay untuk nemenim gue ke toko buku tersebut. Sebelum berangkat ke toko buku, gue samper dia ke gedung dia dulu - gedung 1. Btw gedung gue - gedung 8 itu paling pojok, gak menghadap ke gedung manapun, gue merasa gedung gue seperti dijauhin oleh gedung lainnya, mungkin gedung gue korban bullying kali jadi gak punye temen sama sekali.

Setelah nyamper si Ibay, kita pun pergi ke parkiran depan gedung GKU untuk ngambil motor gue yang parkir di sana. Perjalananpun berjalan dengan lancar, walaupun terkadang ada hambatanyya karena gue belum familiar sama jalanan kota Bandung. Di perjalanan sesekali kita ngobrol tentang rasanya perkuliahan, bagaimana kejamnya TP yang udah bikin gue gak bisa pulang ke Jakarta dan banyaknya tugas-tugas dari bapak/ibu dosen yang gak henti-henti. 

Tiba-tiba si Ibay ngomong ke gue, bahwa dia pengen berhenti kuliah di jurusan Informatika tingkat Diploma ini. Sontak gue berkata "Kenapa?" seperti orang yang tiba-tiba diputusin sama pacarnya.  Kemudian si Ibay-pun ngomong tentang dirinya yang sudah enggak kuat karena ada penyakit yang demi kenyamanannya gak mau gue sebut di sini. guepun ngeledek dia dengan kata "ah lemah" dan diapun hanya tersenyum seperti orang ikhlas ditinggal putus sang pacar. 

Karena gue merasa gak enak dengan ejekkan gue sebelumnya, gue pun bertanya "Serius mau keluar? kayaknya lu enjoy-enjoy aja", "Passion gue bukan di sini fi, gue juga udah capek butuh istirihat apalagi gue ada penyakit *****", jawab Ibay. Suasana menjadi hening seketika. Guepun jadi teringat masa gue di SMA.

***

Seketika gue kembali flashback di masa-sama SMA dulu, waktu itu, gue punya temen sebut saja Adit. Adit ini dia pengen banget jadi seorang dokter anak. Yang jelas bukan dokter aneh-aneh loh ya.  Gue dan teman-teman yang lain suka ngeledek dia dengan kata "dokter cabul" dan semacamnya soalnya waktu itu lagi maraknya berita tentang pencabulan terhadap orang di bawah tahun which is korbanya itu sekitaran anak-anak Sekolah dasar sampai Sekolah Menangah Pertama. Kita sebenernya tahu, mimpi dia itu mulia banget, cuman karena kita masih labil jadi ledekan itu hanya sebuah lelucon pergabutan di tengah kejenuhan kelas..

Kebetulan gue satu tempat bimbel belajar dengan dia. Setiap pelajaran biologi, Adit adalah orang yang paling antusias jika dibandingkan dengan murid-murid satu kelas dan juga ketika ditanya di tanya "cita-cita kamu apa?" dengan semangat dan tekad tahun 45, Adit selalu menjawab "Jadi dokter anak". Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, yang terjadi, terjadilah. Adit gagal melanjutkan impiannya  menjadi seorang dokter anak lulusan Universitas Indonesia. Sekarang dia masuk ke jurusan Agribisnis Universitas Dipongeoro, Semarang. Semoga betah di sana ya Dit!. 

Kemudia sejak saat itu gue jadi mikir, apakah yang gue jalani sesuai mimpi dan passion gue atau hanya gue hanya mengikuti sebatas nafsu gue? Yang sejatinya gue itu orang yang penuh nafsu akan sesuatu.

Sumber gambar: desenio.co.uk
Semoga kita semua dapat menggapai mimpi kita :)

05/02/18

Melihat ke Bawah

"Kok dia punya smartphone mahal?"

"Kok hidupnya maen terus ya?

Itulah kalimat yang terpendam dari hati seorang mahasiswa yang punya khalayan lebih besar dari warehouse IKEA di Tanggerang. Terkadang gue suka binggung sama orang-orang seperti itu, baik itu temen gue ataupun orang yang bisa dibilang hidupnya asik terus. Apakah barang dan harta yang didapat adalah hasil kerja keras sendiri? atau jerih payah orang tua? none of my business

***

Kemarin gue ikut program Google namanya Indonesia Android Kejar yang biasa di sebut IAK. Alhamdulillah, gue diterima jadi salah satu peserta IAK setelah menunggu dari semester 1 selama 4 bulan hahah. Setelah itu gue dapet kelas di ITB calon kampus gue nanti. Semoga.  

Gue disana bertemu banyak orang. Ternyata orang-orang yang gue temui itu rata-rata bukan dari kalangan atas. Apalagi gue kemarin ngeliat mahasiswa ITB yang fisiknya itu bisa dikatakan tidak seperti mansia umumnya. saat itu juga gue lansung mikir tentang hidup gue selama 17 tahun ini. Gue ngerasa dengan fisik gue yang lebih baik darinya merasa tersentil. Gue merasa hidup gue masih bisa dibilang leha-laha jika dibandingin dengan orang itu. Gue merasa perjuangan gue masih dibawah beliau. Perjuangan yang sudah gue anggap maksimal ternyata masih belum cukup untuk dikatakan maksimal. 

Setelah itu, gue meditasi. Dari meditasi tersebut gue dapat disimpulkan, bahwa sebenernya hidup yang gue udah dapet itu sudah sangat cukup dan patut gue syukuri. Walaupun hidup gue masih dibawah temen-temen gue yang gue ceritain sebelumnya, kita jangan selalu melihat kehidupan di atas kita. Bener kalau melihat ke atas dapat memacu motivasi kita, tapi melihat ke bawah itu juga perlu sebagai bahan untuk kita selalu menyukuri apa yang sudah didapat. Karena diluar sana masih banyak orang yang pengen punya kehidupan seperti kita.